Showing posts with label Tempat Wisata. Show all posts
Showing posts with label Tempat Wisata. Show all posts

Keindahan Gunung Galunggung

Gunung Galunggung Terletak di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat, objek wisata Gunung Galunggung merupakan sebuah tempat wisata alam yang menyajikan berbagai macam keindahan alam mulai dari panorama pegunungan, kawah, pepohonan besar dan hijau, kesegaran udaranya dan pemandangan matahari terbenam yang mengagumkan.
Berdasarkan sejarahnya, Gunung Galunggung pertama kali meletus sekitar tahun 1822 yang telah memakan korban jiwa lebih dari 4 ribu orang dan selanjutnya pada tahun 1894 gunung berapi ini kembali meletus dengan korban jiwa antara 500 hingga 1000 jiwa. Hingga yang terakhir terjadi pada tahun 1982 gunung Galunggung mengeluarkan lahar dan abu yang menjangkau sekitar 20 kilometer ke udara sehingga menyebabkan kabut abu setebal 3 cetimeter dengan jarak area 15 kilometer dari pusat semburan.
Akses Menuju Gunung Galunggung
Walaupun objek wisata Gunung Galunggung sangat berbahaya dan masih aktif hingga saat ini, namun banyak wisatawan lokal dan mancanegara yang datang untuk melihat keindahannya. Dengan menaiki kendaraan umum ataupun pribadi dari kota Tasikmalaya, anda dapat sampai di tempat wisata sekitar 2 hingga 3 jam perjalanan. Objek wisata ini juga dekat sekali dengan wisata air panas yang terdapat di Cipanas, sehingga anda tidak akan kesulitan untuk menemukannya.
Untuk menikmati keindahan kawah Gunung Galunggung, anda perlu menaiki sekitar 620 anak tangga yang tentunya sangat melelahkan sekali. Anda pun dapat beristirahat sejenak dan berfoto – foto untuk menikmati pemandangan sekitarnya yang sangat indah. Sesampainya di daerah kaldera kawah Gunung Galunggung, tidak beberapa jauh anda akan melihat beberapa air terjun yang menghiasi lereng – lereng dibawahnya. Ini merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan, dan rasa lelah akan hilang dengan sesaat.
Berbagai Aktivitas Wisata Gunung Galunggung
Beberapa aktivitas yang dapat anda lakukan di objek wisata Gunung Galunggung seperti memancing di danau atau kawah, berjalan – jalan menikmati keindahan alam, melihat matahari terbit dan tenggelam dari puncak gunung dan menikmati kuliner masyarakat sekitar, namun anda tidak boleh melakukan aktivitas berenang di kawah tersebut, karena sangat berbahaya dan mengandung unsur – unsur mistis yang melegenda.
Jika anda berencana untuk berlibur dengan  menikmati keindahan alam dan kesegaran udarannya, objek wisata gunung galunggung dapat menjadi salah satu alternative liburan anda bersama keluarga ataupun teman – teman dengan lebih menyenangkan untuk dilakukan. Biaya untuk berwisata ke tempat ini pun terbilang cukup murah dan terjangkau bagi setiap kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara.


sumber : http://indonesiaexplorer.net/objek-wisata-gunung-galunggung-jawa-barat.html


Tempat Wisata Alam di Karawang (Green Canyon Karawang)

Tempat Wisata Alam di Karawang (Green Canyon Karawang)

Hanya berjarak tempuh sekitar 45 menit saja dari pusat kota Karawang, bisa sampai di Green Canyon (Curug Taneuh) Karawang. Mesti tak sepanjang dan luas Green Canyon di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, pesona Green Canyon mini di Kampung Tonjong  Roke, Desa Medalsari, Kecamatan Pangkalan, Karawang,berbatasan dengan Bogor ini, terbilang cukup menarik untuk dikunjungi.
Menuju lokasi yang sudah populer disebut masyarakat dengan Curug Ciomas ini, dari pusat kota Karawang dengan arah tol Karawang Barat. Namun, kurang dari satu kilometer sebelum masuk gerbang tol, maka kendaraan mengambil arah kiri untuk berbelok ke kanan melewati kolong jembatan layang menuju  Daerah Badami lanjut ke Loji. Dan beberapa puluh meter sebelum sampai ke Pasar Loji, maka arah kendaraan belok ke kanan terus menelusuri jalan beton yang sesekali ditemukan jalan berbatu.
Selintas memang sulit menemukan titik lokasi Green Canyon mini itu. Sebab tak satupun petunjuk arah yang bisa didapat. Hanya saja, masyarakat sekitar yang tampak begitu ramah bisa memberi petunjuk lokasi yang dicari.Namun masyarakat menyebutnya Curug Ciomas.
Ciri pintu masuk ke titik  lokasi  hanya ada 2 warung terbuat dari bambu yang tampak sederhana yang berdampingan dengan jembatan. Makanan siap saji ala masyarakat setempat dengan harga murah meriah bisa dinikmati, sebelum melintasi jalan setapak kira-kira sepanjang 20 meter menuju Green Canyon mini.
Harus ektra hati-hati melintasi jalan setapak itu. Jalan yang memang benar-benar setapak dengan pemandangan tebing curam.
Nah, untuk melintasi Green Canyon mini di Karawang ini, jangan bermimpi bisa menyewa perahu seperti pada Green Canyon di Ciamis. Fasilitas yang disediakan masyarakat desa sekitar hanya berupa ban untuk berenang. Sehingga, jika beniat melintasi kawasan itu berperahu, maka harus membawa sendiri perlengkapannya. Namun jenis perahu karet kecil tentunya, lantaran rute sejauh sekitar 100 meter di lokasi itu terbilang sempit dijepit bebatuan eksotis di sisi kiri kanannya.
Lain halnya  bagi Anda penggemar olah raga renang di alam,  Green Canyon mini Karawang ini layak untuk dicoba. Bahkan di ujung Green Canyon mini, Anda bisa bertemu air terjun setinggi sekitar 7 meter membasahi tubuh Anda.
sumber : http://karawangtoday.com/wp/?p=7518


sumber : http://karawangtoday.com/wp/?p=7518
Talaga Bodas Garut

Talaga Bodas Garut


Salah satu obyek wisata di Kabupaten Garut yang masih menyimpan keindahan tersembunyi adalah Kawah Telaga Bodas. Obyek wisata satu ini memang menyuguhkan panorama alam yang begitu cantik. Nama Telaga Bodas sendiri mengandung makna Telaga Putih, karena memang telaga ini berwarna putih kehijauan. Jika anda pernah berkunjung ke Kawah Putih Ciwedey, Kawah Telaga Bodas ini mirip-mirip seperti Kawah Putih Ciwidey. Warna putih Kawah Telaga Bodas dikarenakan airnya yang mengandung kadar belerang yang cukup tinggi.
Kawah Telaga Bodas berada di Gunung Telaga Bodas dengan ketinggian kawah 1512 mdpl, sedangkan Gunung Telaga Bodas sendiri memliki ketinggian sampai 2201 mdpl. Telaga Bodas berlokasi di perbatasan antara Kabupaten Garut dengan Kabupaten Tasikmalaya, atau berbatasan dengan Kecamatan Pangatikan dan Kecamatan Wanaraja. Atau berjarak sekitar 28 km dari pusat Kota Garut.
Akses menuju Kawah Telaga Bodas memang cukup menyusahkan karena jalan yang sempit dan beberapa akses jalan yang sudah rusak. Jika anda start dari Kota Jakarta atau Bandung , anda bisa mengambil rute perjalanan Jakarta/ Bandung – Garut – Wanaraja. Atau bisa juga mengambil jalur Jakarta/ Bandung – Limbangan – Cibatu – Wanaraja. Perjalanan menuju Kawah Telaga Bodas bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jika anda sudah sampai di pasar Wanaraja, anda bisa bertanya ke penduduk setempat jalur menuju ke Telaga Bodas karena memang tidak ada papan petunjuk ke tempat wisata tersebut. Selama perjalanan menuju Kawah Telaga Bodas, anda akan ditemani pemandangan perbukitan dan perkebunan penduduk yang menyejukkan suasana hati.
Perjalanan panjang dan menyusahkan anda akan berakhir ketika anda sudah sampai di pintu masuk Kawah Telaga Bodas. Harga tiket masuk hanya Rp 5000, untuk area parkir juga sudah disediakan. Dari area parkir ini, anda harus berjalan kaki menuju Kawah Telaga Bodas kurang lebih 200 meter. Anggap saja olah raga sebelum anda menikmati keindahan Kawah Telaga Bodas yang sesungguhnya.
Sesampainya di depan kawah, anda akan dibuat takjub dengan keindahan Kawah Telaga Bodas ini. Warna biru kehijauan, dengan latar belakang perbukitan dan Gunung Telaga Bodas, sungguh suasana yang begitu cantik. Anda bisa berkeliling menyusuri kawah untuk menikmati Kecantikan Kawah telaga Bodas di setiap titik nya. Di sini juga terdapat kolam pemandian air panas yang bisa anda nikmati secara gratis. Sekedar untuk relaksasi setelah capek dengan perjalanan jauh anda.
Beberapa bagian kawah juga mununjukkan ada yang masih aktif, ditandai dengan keluarnya asap dari dalam kawah. Jika ingin berfoto bersama keluarga atau teman, anda bisa berfoto di atas perbukitan, tepatnya di atas kawah aktif. Di sini adalah spot yang tepat untuk mengambil foto. Tapi hati-hati jika berada di dekat kawah aktif, karena hembusan gas/ uapnya bisa mencapai suhu 85 – 95 derajat Celcius.

sumber : http://www.tempatwisataid.com/2107/kawah-telaga-bodas-di-garut-menyimpan-keindahan-tersembunyi.html

Pantai Pangandaran

Pantai Pangandaran


Pantai Indah Pangandaran adalah sebuah pantai yang terletak di pantai selatan serta menurut AsiaRooms merupakan pantai terbaik di Pulau Jawa merupakan objek wisata pantai di Jawa Barat. Pantai ini terletak di Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran dengan jarak ± 92 km arah selatan kota Ciamis. Beberapa keistimewaan dari Pantai ini diantaranya:
Dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama
Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan aman
Terdapat pantai dengan hamparan pasir putih
Tersedia tim penyelamat wisata pantai
Jalan lingkungan yang beraspal mulus dengan penerangan jalan yang memadai
Terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut yang mempesona.
Tempat pendaratan tentara Jepang semasa perang dunia II oleh karenanya di sana masih terdapat beberapa gua pertahanan bala tentara Jepang yang dulu dijadikan tempat-tempat persembunyian tentara Jepang yang berniat menyerang tentara Belanda. (wikipediaG:\khusus blog\Pantai_Pangandaran.htm)
Pantai Pangandaran sangat istimewa karena berbentuk semenanjung atau lebih sederhananya adalah sebuah daratan yang menjorok ke lautan, sehingga sewaktu pagi dari sisi sebelah timur dapat melihat terbitnya matahari (sunrise) dan sore harinya dari sisi sebelah barat dengan jarak tempuh yang tidak begitu jauh dapat melihat terbenamnya matahari (sunset). Disamping itu, pantainya yang landai dengan airnya yang jernih serta pasang-surut air lautnya yang relatif lama, memungkinkan para pengunjung untuk berenang, meskipun sebenarnya ada larangan untuk berenang karena Pangandaran merupakan bagian dari pantai selatan Pulau Jawa yang terkenal mempunyai ombak besar dan sering memakan korban.
Daya tarik lainnya yang cukup menjanjikan sebagai kawasan tujuan wisata adalah adanya kegiatan-kegiatan, seperti: upacara hajat laut setiap bulan Muharam dengan melarung berbagai macam sesajen di Pantai Timur Pangandaran yang dilakukan oleh nelayan setempat sebagai perwujudan rasa terima kasih mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa; dan festival layang-layang internasional (Pangandaran International Kite Festival) pada bulan Juni atau Juli.
Sebagai catatan, bagi wisatawan yang ingin mengunjungi tempat wisata lain, tidak jauh dari Pantai Pangandaran masih ada beberapa obyek wisata lain yang cukup menarik, diantaranya adalah: Pantai Batukaras, Pantai Batu Hiu, Pantai Karang Nini, Pantai Lembah Putri, Pantai Keusik Luhur, Pantai Karang Tirta, Goa Donan, Pemandian Alam Citumang, Cukang Taneuh, dan Cagar Alam Pananjung.
Pengunjung juga dapat menikmati aneka masakan laut di restoran-restoran atau rumah makan yang ada di tempat wisata ini. Menu santapan pun dapat dipesan sesuai selera. Mulai dari ikan bakar, kepiting rebus, hingga udang tepung. Ikan-ikan laut tersebut langsung berasal dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang terletak di Pantai Timur Pangandaran. Sebagai catatan, selain dijual ke restoran-restoran, sebagian ikan-ikan yang didapat oleh para nelayan Pangandaran itu juga diolah untuk dijadikan makanan khas pangandaran, yaitu Jambal Roti (ikan yang diawetkan dengan cara diasinkan).
Sejarah Pangandaran

Pada awalnya Desa Pananjung Pangandaran ini dibuka dan ditempati oleh para nelayan dari suku sunda. Penyebab pendatang lebih memilih daerah Pangandaran untuk menjadi tempat tinggal karena gelombang laut yang kecil yang membuat mudah untuk mencari ikan. Karena di Pantai Pangandaran inilah terdapat sebuah daratan yang menjorok ke laut yang sekarang menjadi cagar alam atau hutan lindung, tanjung inilah yang menghambat atau menghalangi gelombang besar untuk sampai ke pantai. Di sinilah para nelayan menjadikan tempat tersebut untuk menyimpan perahu yang dalam bahasa sundanya disebut andar setelah beberapa lama banyak berdatangan ke tempat ini dan menetap sehingga menjadi sebuah perkampungan yang disebut Pangandaran. Pangandaran berasal dari dua buah kata pangan dan daran . yang artinya pangan adalah makanan dan daran adalah pendatang. Jadi Pangandaran artinya sumber makanan para pendatang.
Lalu para sesepuh terdahulu memberi nama Desa Pananjung, karena menurut para sesepuh terdahulu di samping daerah itu terdapat tanjung di daerah inipun banyak sekali terdapat keramat-keramat di beberapa tempat. Pananjung artinya dalam bahasa sunda Pangnanjung-nanjungna ( paling subur atau paling makmur)
Pada mulanya Pananjung merupakan salah satu pusat kerajaan, sejaman dengan kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggan sekitar abad XIV M. setelah munculnya kerajaan Pajajaran di Pakuan Bogor. Nama rajanya adalah Prabu Anggalarang yang salah satu versi mengatakan bahwa beliau masih keturunan Prabu Haur Kuning, raja pertama kerajaan Galuh Pagauban, namun sayangnya kerajaan Pananjung ini hancur diserang oleh para Bajo (Bajak Laut) karena pihak kerajaan tidak bersedia menjual hail bumi kepada mereka, karena pada saat itu situasi rakyat sedang dalam keadaan paceklik (gagal panen).
Pada tahun 1922 pada jaman penjajahan Belanda oleh Y. Everen (Presiden Priangan) Pananjung dijadikan taman baru, pada saat melepaskan seekor banteng jantan, tiga ekor sapi betina dan beberapa ekor rusa.
Karena memiliki keanekaragaman satwa dan jenis – jenis tanaman langka, agar kelangsungan habitatnya dapat terjaga maka pada tahun 1934 Pananjung dijadikan suaka alam dan marga satwa dengan luas 530 Ha. Pada tahun 1961 setelah ditemukannya Bunga Raflesia padma status berubah menjadi cagar alam.
Dengan meningkatnya hubungan masyarakat akan tempat rekreasi maka pada tahun 1978 sebagian kawasan tersebut seluas 37, 70 Ha dijadikan Taman Wisata. Pada tahun 1990 dikukuhkan pula kawasan perairan di sekitarnya sebagai cagar alam laut (470,0 Ha) sehingga luas kawasan pelestarian alam seluruhnya menjadi 1000,0 Ha. Perkembangan selanjutnya, berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 104?KPTS-II?1993 pengusahaan wisata TWA Pananjung Pangandaran diserahkan dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam kepada Perum Perhutani dalam pengawasan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, Kesatuan Pemangkuan Hutan Ciamis, bagian Kemangkuan Hutan Pangandaran.
(http://www.mypangandaran.com/profil/detail/1/sejarah-pangandaran.html )
(http://firdharizki.blog.ugm.ac.id/)

Curug Tujuh Cibolang Ciamis



Mengagumi keindahan alam di Tatar Sunda memang tak akan ada habisnya. Geografi alam tatar Sunda yang kaya akan hutan dan dikelilingi pegunungan, aliran sungai, ladang dan pesawahan selalu membuat kita berdecak kagum. Termasuk Curug Cibolang salah satu objek wisata yang mampu menyedot perhatian banyak orang karena keindahan, manfaat, dan legendanya.
Objek Wisata Curug Cibolang terletak di Kawasan Perhutani Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Panjalu Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ciamis Perhutani Ciamis atau secara administratif di Desa Sandingtaman Kecamatan Panjalu, 35 Km dari Kota Ciamis ke arah utara.
Salah satu keindahan alam dari Curug Cibolang atau dikenal juga sebagai Curug Tujuh yaitu sesuai dengan namanya curug ini mempunyai 7 buah air terjun (curug) yang tersebar dan tidak berjauhan letaknya. Bahkan curug 4 dan 5 letaknya berdampingan hanya terpisah kurang lebih 2 meter jaraknya, sehingga dengan demikian untuk dapat menikmati keindahan dan keasrian ketujuh air terjun tersebut, adalah dengan cara mengitari bukit, menapaki jalan setapak mulai dari kaki ke puncak bukit dan kembali lagi.
Setiap curug ini memiliki nama yaitu, Curug Satu, Curug Dua, Curug Tiga, Curug Cibolang, Curug Cimantaja, Curug Cileutik dan Curug Cibuluh. Ketujuh curug ini mengalirkan air ke sungai Cibolang dan Cimantaja
Curug Satu merupakan air terjun yang paling besar dengan ketinggian hampir mencapai 120 meter dengan lebar sekitar 15-20 meter dan di sisi kirinya terdapat tebing datar. Sementara lokasi Curug Dua berada di bawahnya. Konon di salah satu curug ini airnya memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit karena air terjun yang mengalir berasal dari kawah Gunung Sawal diketahui mengandung belerang.
Lokasi Curug Tiga, Curug Cibolang, dan Curug Cimantaja agak sejajar. Curug Cibolang mempunyai ketinggian sekitar 30-50 meter dengan lebar kira-kira 5 m. Adapun Curug Cimantaja, terletak di bawah Curug Cibolang. Disebut Curug Cimantaja karena konon berasal dari kata Cimata Raja atau air mata raja.
Curug Cileutik dan Curug Cibuluh memiliki ketinggian tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 30 m saja. Namun kondisi jalan menuju ke arah dua air terjun ini sangat licin dan cukup berbahaya. Sangat disarankan untuk tidak ke area ini bila kurang berpengalaman. Di Curug Cibuluh terdapat kolam kecil berukuran 3 m berbentuk setengah lingkaran dengan airnya berwarna kehijauan.
Tidak jauh dari Curug Cileutik dan Curug Cibuluh terdapat lokasi wisata berupa Batu Kereta Api. Disebut demikian karena memang bentuk batunya yang besar-besar seperti gerbong kereta dan berjejer ke belakang sebanyak 12 buah..(Kom-PHT/Cms/Aan).

sumber : http://bumn.go.id/perhutani/berita/2651/Pesona.Alam.Curug.Tujuh.Cibolang.Perhutani.Ciamis

Situ Lengkong Panjalu

Situ Lengkong Panjalu


Situ Lengkong Panjalu adalah sebuah danau seluas 57,95 hektar dengan pulau di tengahnya seluas 9,25 hektar, bernama Nusa Gede. Di Pulau Nusa Gede terdapat hutan lindung beserta peninggalan purbakala. Konon, Nusa Gede awalnya adalah pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu, selain juga berfungsi sebagai benteng pertahanan. Di sini juga terdapat makam penyebar agama Islam yang bernama Mbah Panjalu. Didalam hutan terdapat 307 pohon yang terdiri dari 30 jenis.
Menurut cerita sejarah Panjalu, Situ Lengkong merupakan hasil buatan para leluhur Panjalu, yang hidup di jaman Kerajaan Hindu Panjalu. Konon pada awal abad ke-7, seorang raja Panjalu menginginkan putra mahkotanya memiliki ilmu yang paling ampuh dan paling sempurna. Maka berangkatlah sang putra mahkota yang bernama Borosngora menuju ke suatu tempat dan berakhir di tanah suci Mekah. Di sanalah tujuannya tercapai, yaitu mempelajari dan memperdalam Agama Islam dan membaca dua kalimah Syahadat.
Setelah tinggal cukup lama maka pulanglah sang putra mahkota ke Panjalu dengan dibekali air Zamzam, pakaian kesultanan, serta perlengkapan pedang dan cis. Di Panjalu, tugas utamanya adalah menjadi raja Islam dan sekaligus mengislamkan rakyatnya. Beliau kemudian menjadi Raja Panjalu menggantikan ayahnya dengan Gelar Sang Hyang Borosngora. Mulai saat itulah kerajan Panjalu berubah dari kerajaan Hindu menjadi kerajaan Islam. Konon, air zamzam dari Mekah ditumpahkan ke lembah bernama Lembah Pasir Jambu. Kemudian Lembah itu bertambah banyak airnya dan terjadilah danau yang kini disebut Situ Lengkong.

sumber : http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=21&lang=id
Situ Lengkong Panjalu adalah sebuah danau seluas 57,95 hektar dengan pulau di tengahnya seluas 9,25 hektar, bernama Nusa Gede. Di Pulau Nusa Gede terdapat hutan lindung beserta peninggalan purbakala. Konon, Nusa Gede awalnya adalah pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu, selain juga berfungsi sebagai benteng pertahanan. Di sini juga terdapat makam penyebar agama Islam yang bernama Mbah Panjalu. Didalam hutan terdapat 307 pohon yang terdiri dari 30 jenis.
Menurut cerita sejarah Panjalu, Situ Lengkong merupakan hasil buatan para leluhur Panjalu, yang hidup di jaman Kerajaan Hindu Panjalu. Konon pada awal abad ke-7, seorang raja Panjalu menginginkan putra mahkotanya memiliki ilmu yang paling ampuh dan paling sempurna. Maka berangkatlah sang putra mahkota yang bernama Borosngora menuju ke suatu tempat dan berakhir di tanah suci Mekah. Di sanalah tujuannya tercapai, yaitu mempelajari dan memperdalam Agama Islam dan membaca dua kalimah Syahadat.
Setelah tinggal cukup lama maka pulanglah sang putra mahkota ke Panjalu dengan dibekali air Zamzam, pakaian kesultanan, serta perlengkapan pedang dan cis. Di Panjalu, tugas utamanya adalah menjadi raja Islam dan sekaligus mengislamkan rakyatnya. Beliau kemudian menjadi Raja Panjalu menggantikan ayahnya dengan Gelar Sang Hyang Borosngora. Mulai saat itulah kerajan Panjalu berubah dari kerajaan Hindu menjadi kerajaan Islam. Konon, air zamzam dari Mekah ditumpahkan ke lembah bernama Lembah Pasir Jambu. Kemudian Lembah itu bertambah banyak airnya dan terjadilah danau yang kini disebut Situ Lengkong.
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=21&lang=id#sthash.B1lNFI8J.dpuf
Situ Lengkong Panjalu adalah sebuah danau seluas 57,95 hektar dengan pulau di tengahnya seluas 9,25 hektar, bernama Nusa Gede. Di Pulau Nusa Gede terdapat hutan lindung beserta peninggalan purbakala. Konon, Nusa Gede awalnya adalah pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu, selain juga berfungsi sebagai benteng pertahanan. Di sini juga terdapat makam penyebar agama Islam yang bernama Mbah Panjalu. Didalam hutan terdapat 307 pohon yang terdiri dari 30 jenis.
Menurut cerita sejarah Panjalu, Situ Lengkong merupakan hasil buatan para leluhur Panjalu, yang hidup di jaman Kerajaan Hindu Panjalu. Konon pada awal abad ke-7, seorang raja Panjalu menginginkan putra mahkotanya memiliki ilmu yang paling ampuh dan paling sempurna. Maka berangkatlah sang putra mahkota yang bernama Borosngora menuju ke suatu tempat dan berakhir di tanah suci Mekah. Di sanalah tujuannya tercapai, yaitu mempelajari dan memperdalam Agama Islam dan membaca dua kalimah Syahadat.
Setelah tinggal cukup lama maka pulanglah sang putra mahkota ke Panjalu dengan dibekali air Zamzam, pakaian kesultanan, serta perlengkapan pedang dan cis. Di Panjalu, tugas utamanya adalah menjadi raja Islam dan sekaligus mengislamkan rakyatnya. Beliau kemudian menjadi Raja Panjalu menggantikan ayahnya dengan Gelar Sang Hyang Borosngora. Mulai saat itulah kerajan Panjalu berubah dari kerajaan Hindu menjadi kerajaan Islam. Konon, air zamzam dari Mekah ditumpahkan ke lembah bernama Lembah Pasir Jambu. Kemudian Lembah itu bertambah banyak airnya dan terjadilah danau yang kini disebut Situ Lengkong.
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=21&lang=id#sthash.B1lNFI8J.dpuf
Situ Lengkong Panjalu adalah sebuah danau seluas 57,95 hektar dengan pulau di tengahnya seluas 9,25 hektar, bernama Nusa Gede. Di Pulau Nusa Gede terdapat hutan lindung beserta peninggalan purbakala. Konon, Nusa Gede awalnya adalah pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu, selain juga berfungsi sebagai benteng pertahanan. Di sini juga terdapat makam penyebar agama Islam yang bernama Mbah Panjalu. Didalam hutan terdapat 307 pohon yang terdiri dari 30 jenis.
Menurut cerita sejarah Panjalu, Situ Lengkong merupakan hasil buatan para leluhur Panjalu, yang hidup di jaman Kerajaan Hindu Panjalu. Konon pada awal abad ke-7, seorang raja Panjalu menginginkan putra mahkotanya memiliki ilmu yang paling ampuh dan paling sempurna. Maka berangkatlah sang putra mahkota yang bernama Borosngora menuju ke suatu tempat dan berakhir di tanah suci Mekah. Di sanalah tujuannya tercapai, yaitu mempelajari dan memperdalam Agama Islam dan membaca dua kalimah Syahadat.
Setelah tinggal cukup lama maka pulanglah sang putra mahkota ke Panjalu dengan dibekali air Zamzam, pakaian kesultanan, serta perlengkapan pedang dan cis. Di Panjalu, tugas utamanya adalah menjadi raja Islam dan sekaligus mengislamkan rakyatnya. Beliau kemudian menjadi Raja Panjalu menggantikan ayahnya dengan Gelar Sang Hyang Borosngora. Mulai saat itulah kerajan Panjalu berubah dari kerajaan Hindu menjadi kerajaan Islam. Konon, air zamzam dari Mekah ditumpahkan ke lembah bernama Lembah Pasir Jambu. Kemudian Lembah itu bertambah banyak airnya dan terjadilah danau yang kini disebut Situ Lengkong.
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=21&lang=id#sthash.B1lNFI8J.dpuf